Tampilkan postingan dengan label TausiahIslam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TausiahIslam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Maret 2016

Lima Pesan Nabi Saat Terjadi Gerhana Matahari Total


Gerhana Matahari total diprediksi akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016. Itu artinya, tinggal hitungan hari lagi hari itu akan datang. Sebagai seorang muslim, kira-kira apa yang sudah Anda siapkan untuk menyambut fenomena langka tersebut? Apakah Anda hanya sibuk memperhatikan dan mengabadikannya saja? Atau Anda sudah menyiapkan piranti ibadah guna melaksanakan amalan yang disunnahkan ketika munculnya gerhana?

Sebagai seorang muslim, Anda tidak perlu bingung, apalagi melakukan hal-hal yang tidak ada tuntunannya, karena Rasulullah Shalallahu álaihi wasallam sudah memberikan tuntunan berupa ibadah yang bisa kita amalkan ketika terjadi gerhana, baik gerhana matahari maupun gerhana bulan. Apa sajakah itu? Simak  informasi yang berjudul Lima Pesan Nabi Saat Terjadi Gerhana Matahari Total, berikut ini :

1.    Perbanyak dzikir, takbir, istighfar dan amalan lainnya
Saat terjadi gerhana matahari total, jangan sibukkan diri Anda dengan mengamati apalagi mengabadikannya saja, karena Rasulullah sudah memberi tuntunan agar kita memperbanyak dzikir, istighfar, takbir maupun alaman lainnya.
 Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.” (HR. Al Bukhari)

2.    Mengerjakan shalat gerhana secara berjamaáh di masjid
Amalan lainnya yang bisa Anda kerjakan adalah melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah di masjid/tanah lapang. Namun bisa juga jika Anda melaksanakannya sendiri di rumah, karena tidak ada tuntunan harus sendiri atau berjamaah.
”Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka shalatlah” (HR. Bukhari)
Ibnu Hajar mengatakan, ”Yang sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam adalah mengerjakan shalat gerhana di masjid. Seandainya tidak demikian, tentu shalat tersebut lebih tepat dilaksanakan di tanah lapang agar nanti lebih mudah melihat berakhirnya gerhana.” (Fathul Bari)

3.    Wanita diperbolehkan shalat gerhana bersama kaum pria
Bagi para wanita, tidak ada larangan jika ingin ikut mengerjakan shalat Gerhana secara berjamaah di Masjid.
Dari Asma` binti Abi Bakr, beliau berkata, “Saya mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- ketika terjadi gerhana matahari. Saat itu manusia tengah menegakkan shalat. Ketika Aisyah turut berdiri untuk melakukan sholat, saya bertanya: “Kenapa orang-orang ini?” Aisyah mengisyaratkan tangannya ke langit seraya berkata, “Subhanallah (Maha Suci Allah)”. Saya bertanya: “Tanda (gerhana)?” Aisyah lalu memberikan isyarat untuk mengatakan iya.” (HR. Bukhari)

4.    Menyeru jama’ah dengan “’ash sholatu jaami’ah”, tidak
ada adzan dan iqomah.
Dari ’Aisyah radhiyallahu ’anha, beliau mengatakan, “Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk memanggil jama’ah dengan: ‘ASH SHALATU JAMI’AH’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at.”
Hadits ini menjelaskan bahwa tidak ada perintah untuk mengumandangkan adzan dan iqomah. Jadi bisa disimpulkan bahwa adzan dan iqomah tidak ada dalam shalat gerhana.

5.    Berkhutbah setelah shalat gerhana
Setelah melaksanakan shalat gerhana, disunnahkah untuk berkhutbah, sebagaimana yang dipilih oleh Imam Asy Syafi’i, Ishaq, dan beberapa sahabat lainnya. Hal ini berdasarkan dalam hadits berikut ini :
Dari Aisyah, beliau menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri, memperpanjang ruku’, memperpanjang sujud. Kemudian seusai melaksanakan shalat gerhana, Beliau berkhotbah di hadapan orang banyak, beliau memuji dan menyanjung Allah, kemudian bersabda,

”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat hal tersebut maka berdo’alah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah shalat dan bersedekahlah.”

Nabi selanjutnya bersabda,
”Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah karena ada seorang hamba baik laki-laki maupun perempuan yang berzina. Wahai Umat Muhammad, demi Allah, jika kalian mengetahui yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.”(HR. Bukhari)
Setelah mengetahui Lima Pesan Nabi Saat Terjadi Gerhana Matahari Total diatas, masihkah Anda bingung mau berbuat apa saat moment istimewa itu tiba? Semoga informasi diatas dapat bermanfaat bagi kita semua.

Sabtu, 05 Maret 2016

Perhiasan Perempuan yang Mana Saja?


“DAN hendaknya mereka itu tidak menampak-nampakkan perhiasannya terhadap suami atau ayahnya,” (QS an-Nur: 31).

Pengarahan ini tertuju kepada perempuan-perempuan mu’minah, dimana mereka dilarang keras membuka atau menampakkan perhiasannya yang seharusnya disembunyikan, misalnya perhiasan telinga (anting-anting), perhiasan rambut (tusuk), perhiasan leher (kalung), perhiasan dada (belahan dadanya) dan perhiasan kaki (betis dan gelang kaki).

Semuanya ini tidak boleh dinampakkan kepada laki-laki lain. Mereka hanya boleh melihat muka dan kedua tapak tangan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan.

Akan tetapi semua larangan akan gugur, jikalau seorang perempuan menampakan perhiasannya kepada dua belas orang ini, siapa saja, ya?

Pertama, Suami. Yakni si suami boleh melihat isterinya apapun ia suka. Ini ditegaskan juga oleh hadis Nabi yang mengatakan, “Peliharalah auratmu, kecuali terhadap isterimu.”

Kedua, Ayah. Termasuk juga kakek, baik dari pihak ayah ataupun ibu.

Ketiga, Ayah mertua. Karena mereka ini sudah dianggap sebagai ayah sendiri dalam hubungannya dengan isteri.

Keempat, Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan.

Kelima, Anak-anaknya suami. Karena ada suatu keharusan untuk bergaul dengan mereka itu, ditambah lagi, bahwa si isteri waktu itu sudah menduduki sebagai ibu bagi anak-anak tersebut.4

Keenam, Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu.

Ketujuh, Keponakan. Karena mereka ini selamanya tidak boleh dikawin.

Kedelapan, Sesama perempuan, baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain yang seagama. Sebab perempuan kafir tidak boleh melihat perhiasan perempuan muslimah, kecuali perhiasan yang boleh dilihat oleh laki-laki. Demikianlah menurut pendapat yang rajih.

Kesembilan, Hamba sahaya. Sebab mereka ini oleh Islam dianggap sebagai anggota keluarga. Tetapi sebagian ulama ada yang berpendapat: Khusus buat hamba perempuan (amah), bukan hamba laki-laki.

Kesepuluh, Keponakan dari saudara perempuan. Karena mereka ini haram dikawin untuk selamanya.
Kesebelas, Bujang/orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat. Mereka ini ialah buruh atau orang-orang yang ikut perempuan tersebut yang sudah tidak bersyahwat lagi karena masalah kondisi badan ataupun rasio. Jadi yang terpenting di sini ialah: adanya dua sifat, yaitu mengikut dan tidak bersyahwat.

Kedua belas, Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan. Mereka ini ialah anak-anak yang masih belum merasa bersyahwat. Kalau kita perhatikan dari kalimat ini, anak-anak yang sudah bergelora syahwatnya, maka orang perempuan tidak boleh menampakkan perhiasannya kepada mereka, sekalipun anak-anak tersebut masih belum baligh.

Dalam ayat ini tidak disebut-sebut masalah paman, baik dari pihak ayah (‘aam) atau dari pihak ibu (khal), karena mereka ini sekedudukan dengan ayah, seperti yang diterangkan dalam hadis Nabi SAW, “Pamannya seseorang adalah seperti ayahnya sendiri,” (HR Muslim).

Android Portal Indonesia